Gajah Liar Aceh di Selamatkan dan di Pasangi GPS

Gajah liar yang terluka di Aceh diobati dan dipasangi GPS (Foto:Dok. BKSDA Aceh)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seekor gajah liar betina yang berkeliaran di wilayah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), telah diselamatkan oleh Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh pada Kamis (29/11).

Warga sekitar sudah melihat kehadiran gajah liar itu selama beberapa minggu terakhir. Kondisi gajah itu sudah begitu buruk, di bagian pangkal ekor dan dada si gajah terdapat beberapa luka yang mulai membahayakan berdasarkan informasi yang diterima pihak media (kumparan).

Kala itu tim telah berhasil menemukan posisi gajah, tapi karena gelapnya malam mereka memutuskan untuk menunggu keesokan harinya untuk menyelamatkan si gajah.

Pada Kamis (29/11) tim berhasil menemukan si gajah, membiusnya, dan memberikan penanganan terhadap luka-luka yang diderita si gajah. Tim menemukan bahwa luka si gajah sudah mulai mengalami pembusukan.

Ada beberapa bagian luka yang harus diamputasi karena kondisinya sudah infeksi dan membusuk, Operasi amputasi berjalan lancar dan gajah tersebut telah mendapat antibiotik dan vitamin yang diberikan, baik melalui parenteral (injeksi) atau topical (langsung pada luka).

Gajah di Aceh yang diselamatkan Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). (Foto:Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, gajah betina itu juga dipasangi kalung GPS Tracker agar pergerakan hariannya bisa dipantau. Data dari kalung GPS ini akan memberikan informasi lebih banyak tentang pola penggunaan habitat gajah serta keterhubungannya dengan habitat lain di daerah berbeda.

Populasi gajah di Gunung Biram, Aceh Besar, dulunya sering berpindah tempat hingga ke Gunung Seulawah Agam dan daerah pesisir, seperti Lampanah Leungah. Namun karena ada perubahan lingkungan di daerah jalan lintas Sumatera, populasi gajah akhirnya jarang berpindah.

Berdasarkan letak geografis dan keterhubungan habitatnya, populasi gajah di Gunung Biram diduga masih sering bergabung dengan populasi gajah lain di kawasan Jantho, Aceh Tengah. Populasi gajah tersebut sering menimbulkan konflik dengan manusia di daerah Jantho.

Data dari kalung GPS Tracker tersebut diharapkan bisa mengonfirmasi secara akurat jalur migrasi populasi gajah, dan membantu pihak-pihak berwenang membangun usaha konservasi gajah Sumatera. Selain itu data itu juga bisa dimanfaatkan untuk menangani konflik gajah dan manusia yang sering terjadi.

Dari peristiwa diatas menunjukan betapa sangat berkembangnya kemajuan teknologi yang ada, contohya GPS Tracker selain berguna mengamankan kendaraan dan asset bergerak juga dapat membantu melestarikan dan mengamankan satwa liar yang dilindungi.

 

Sumber: kumparan.com

Leave A Comment